Butuh 5 Tahun Untuk Pulihkan Ekonomi RI Menurut Faisal Basri

Ekonom senior bernama Faisal Badri kembali menyoroti kebijakan pemerintah dalam menangani pandemic Covid – 19 di Indonesia saat ini.

Menurutnya, butuh waktu yang lama bagi ekonomi Indonesia agar bisa pulih ke kondisi sebelum terjadinya pandemic Covid – 19 jika penanganan pemerintah masih berjalan lamban.

“Ini tanda-tanda masih jauh kita dari pulih. Barangkali butuh 3 tahun paling cepat, mungkin 3 sampai 5 tahun kalau melihat situasi seperti ini,” katanya, Jumat 16 Juli 2021.

Faisal juga menambahkan bahwa kondisi saat ini bisa terjadi jika penanganan pandemic masih tidak terorganisir dengan baik.

Selain itu, perbankan di Tanah Air masih enggan menyalurkan kredit. Di masa pandemic, ia menilai bahwa bank justru lebih banyak menempatkan dananya di surat utang milik negara daripada menyalurkan kredit ke sektor – sektor produktif.

Hal ini bisa terlihat dari porsi pembelian surat utang negara oleh perbankan pada Maret 2021 mencapai 27,9 persen.

Sementara pada Maret 2020 lalu, porsi pembelian surat utang negara oleh perbankan hanya mencapai 26,9 persen.

“Uangnya di bank digunakan untuk membeli SBN, bukannya disalurkan ke UMKM, sehingga sekarang pembeli terbanyak surat utang pemerintah itu adalah bank 38 persen,” jelas Faisal Basri.

Di samping itu, Faisal menyampaikan bahwa selama ini pemerintah inkonsisten dalam penanganan Covid-19, terlihat dari kebijakan yang terus berubah-ubah.

“Kalau lihat situasi seperti ini lambat, bertele-tele penanganan pandeminya karena tidak terorganisir. Panglima perangnya ganti-ganti, pakai cara-cara preman dengan nantang-nantang nggak karuan,” tuturnya.

Akibat penanganan pandemi yang bertele-tele, Faisal menyebut butuh waktu 3 hingga 5 tahun untuk membuat kondisi ekonomi Indonesia kembali pulih seperti sebelum pandemi.

“Barangkali butuh waktu 3 tahun paling cepat, mungkin 3 sampai 5 tahun kalau melihat situasi seperti ini. Bertele-tele menangani pandemi, tidak terorganisir,” kata Faisal Basri.

Faisal mencontohkan tanda-tanda pemulihan ekonomi yang masih jauh dari pulih, antara lain kinerja penyaluran kredit perbankan yang terus turun. Pada kuartal I 2021 juga masih mengalami kontraksi -3,8%.

“Sudah 7 bulan berturut-turut kredit mengalami kontraksi. Sederhana sekali, ujung tombak untuk mengetahui mulai menggeliat atau tidak ekonominya, orang mulai pinjam ke bank untuk membeli bahan baku, membeli mesin dan sebagainya. Tapi masyarakat tidak mau konsumsi, mereka taruh uangnya di bank, makanya pertumbuhannya masih double digit,” paparnya.

Ditegaskan Faisal, dalam menangani pandemi Covid-19, pemerintah harus lebih tegas untuk memprioritaskan kesehatan.

Tidak bisa antara kesehatan dan ekonomi berjalan beriringan karena justru proses pemulihannya nanti akan berjalan semakin lama.

Kebijakan gas-rem yang selama ini diambil pemerintah juga tidak efektif dalam menangani pandemi Covid-19.

“Gas-rem itu mencerminkan tidak ada rencana, trial and error. Semakin tidak karuan kita menangani Covid-19, ini tercermin dari recovery ekonomi yang terbata-bata. Semakin tegas pembatasan sosial, semakin efektif pembatasan sosial, semakin cepat ekonomi pulih dengan kecepatan yang tinggi,” kata Faisal selaku Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef)